Minggu, 30 Agustus 2009

Pidato Obama dalam Bahasa Indonesia

PIDATO PRESIDEN BARACK OBAMA
PERMULAAN YANG BARU (5 Juni 2009)

Kairo, Mesir, EnglishKairo, 4 Juni. Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa.
Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda,
dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: "assalamu'alaikum".Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih
jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam. Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di
kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi
manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan , kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri. Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan
Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia. Saya menyadari
perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa
melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana kitab suci Al Qur'an mengatakan, "Ingatlah kepada Allah dan bicaralah selalu tentang kebenaran." Ini yang akan saya lakukan hari ini –
berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita. Sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam. Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas
Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta
pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin. Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika. Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami John Adams menulis, "Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim." Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di
perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini, ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya. Jadi saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat
agama ini pertama kali diturunkan.. Pengalaman tersebut memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam.
Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam di mana pun munculnya. Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika. Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber
kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: "Dari banyak menjadi satu". Banyak dikatakan menyangkut fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari rata-rata. Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang mengingkarinya. Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya
percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan. Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat
memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua. Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi
bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama lain sebagai umat manusia. Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti
itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan;
kemajuan harus dibagi bersama. Itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi
ketegangan-ketegang an ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama. Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud. Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak
akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai
Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak
negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan
mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang harus dihadapi. Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami
tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami. Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini.[]
Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami
bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan
Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa
mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang. Itulah
sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya
besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang
seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah
membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam
agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim.
Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia,
kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran
mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia
seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan
satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah
yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada
kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah
dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian
penting dari penggalakkan perdamaian. Kami
juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di
Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam
investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke
depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah
sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka
yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan
lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun
ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kini
saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan,
Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan
perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya
percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam
Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah
mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan
membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun
memungkinkan. Kita
bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami,
Thomas Jefferson, yang mengatakan: "Saya berharap kebijakan kita akan
bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa
semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar
kekuatan itu." Hari
ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak
membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke
tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami
tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik
teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan
mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan
brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu
sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak
yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari
kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara
kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara
Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang
aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung. Dan
akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi
kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan
prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi
negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami,
tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan
dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah
konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik
penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan
penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan. Jadi
Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa
dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan
masyarakat-masyarak at Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum
ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarak at Muslim,
semakin cepat kita semua akan menjadi selamat. Sumber ketegangan besar
yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga
Israel, Palestina, dan dunia Arab. Ikatan
yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini
tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan
sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi
berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari. Di
seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan
anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak
pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang
menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak,
disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta
orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di
Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar,
bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau
mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah
dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak
umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di
kawasan ini. Di
sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang
Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan
memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah
merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu
di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga
untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka
jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang
hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang
dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak
akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat,
kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri. Selama
beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan
aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang
membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat
Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara
Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan
serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang
sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari
satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran:
satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui
dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup
dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan) Ini
adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan
Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil
ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk
tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut
Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi
mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita. Warga
Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan
pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad,
rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak
dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan
kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah
tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang
merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan
oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa
Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang
sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah
sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke
anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam
bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan
cara untuk menghilangkannya. Kini
waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang
bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan
untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya.
Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi
mereka juga punya tanggung jawab.. Guna memainkan peran yang memenuhi
aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina,
Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu
dan mengakui hak eksistensi Israel. Secara
bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel
untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak
Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang
berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak
menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan)
Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan
melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan
pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan) Israel
harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa
hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain
menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis
kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula
halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat.
Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi
bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil
langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu. Akhirnya,
Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab
merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab
mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan
perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya.
Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat
Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara
mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus
pada masa lalu yang begitu melemahkan. Amerika
akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan
perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara
pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab.
(tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi
secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan
lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah
negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak
berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang
benar. Terlalu
banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah
ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang
menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa
menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah
Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang
diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman
dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan
sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai
sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad
(damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan) Sumber
ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak
dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.Isu
ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik
Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian
lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang
kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan
peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara
demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam
tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil
Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam
masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran
bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini,
bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin
dibangunnya. . Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan,
tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak
isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah
maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi
jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata
nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar
terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan
perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus
ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan
non-proliferasi global. Saya
memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata
sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan
negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya
saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah
dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir.
(tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses
ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung
jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu
merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua
pihak yang mematuhinya. Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah
demokrasi. Saya
percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara
kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk
semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan
demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi
ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan
apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara
lainnya. Tetapi
hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang
mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan
prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi
rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua
orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa
menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki
keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang
merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan
ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan
hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang;
pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya;
kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar
ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami
akan mendukungnya di mana saja. Tak ada garis lurus untuk menciptakan
janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan- pemerintahan yang
melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan
aman. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi
yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil
melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan
patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat
dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih
dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya.
Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk
rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang
kekuasaan,Butir
ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat
mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus
hak-hak orang lain. (tepuk
tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan
untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang
kekuasaan. anda
harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda
harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat
toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda
dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa
ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang
murni.Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan
beragama. Islam
memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita
menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya
menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di
mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini.
Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan
mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini
penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan
berbagai cara. Di
kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni
mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan
orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah
itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan)
Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim,
sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan
kekerasan yang tragis, khususnya di Irak. Kebebasan
beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus
senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya.
Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah
mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah
sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika
guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat. Juga
penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara
Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya,
dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan
Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan
terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme. Keyakinan
seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan
proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan
Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama
Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di
seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar
Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada
tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau
menyediakan bantuan bencana alam. Isu keenam yang ingin saya
tanggapi adalah hak-hak perempuan. Saya
tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa
pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya
seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat
bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak
diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana
kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur. Saya
perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata
merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan
Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya
Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara
itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan
aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah
sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas
penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf
untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan
lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan
cita-cita mereka. Saya
yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti
putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa
dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan
perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya
berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti
laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang
memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi
hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri. Akhirnya, saya
ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan. Saya
tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet
dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga
seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi
kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru,
tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara –
termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan.
Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan
ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita –
hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita,
tradisi kita dan keyakinan kita. Tetapi
saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada
kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan
Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya
mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam
Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa
kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis
depan inovasi dan pendidikan. Ini
penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan
pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak
bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan.
Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan
minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada
pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa
pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21.
(tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan
investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara
saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada
minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan
yang lebih luas. Dalam
pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak
bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga
mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat
Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan
di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam
pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan
menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas
mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.. Dalam
rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan
bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT
Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa
mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta
sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia. Dalam
bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru
untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas
penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar
sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat
keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta
mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program
yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan
hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen
baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama
Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan
memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan
kesehatan anak dan ibu. Semua
ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung
dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan,
pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna
membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Isu-isu
yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya
tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita
cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam
rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana
rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka
sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai;
sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak
dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama.
Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa
capai bersama. Saya
tahu ada banyak - Muslim dan non-Muslim - yang mempertanyakan apakah
kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api
perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak
ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai
peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa
perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu
banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap
dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya
secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap
kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki
kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia. Kita
semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah
apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah
belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha
berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada
masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan
manusia. Hal-hal
ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang
menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan
introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang
ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang
merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain
sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka.
Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah
keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat;
bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi.. Ini merupakan
keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap
berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya
pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini. Kita
memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan,
tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang
baru, sambil ingat pada apa yang tertulis. Kitab Suci Al Quran
mengatakan, "Wahai manusia! Sesungguhnya
kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan
dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling kenal mengenal…" Talmud mengatakan kepada kita: "Seluruh
Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian." Kitab Suci Injil
mengatakan pada kita, "Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka
akan disebut putra-putra Allah." Rakyat
seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan
visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih.
Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih
TAMAT

Rabu, 26 Agustus 2009

sakola lila teuing

Bepuluh-puluh tahun kita sekolah, berpuluh-puluh tahun kita nganggur,

Ah hoyong geura liburan sakola teh..

Mendingan kita beraksi di dunia nyata, jangan hanya sekedar bergumul dengan teori yang. Seolah saya adalah kertas yang hanya bisa ditulisi, padahal saya adalah api yang harus dinyalakan.
Liburanna kaping 17 September eung...!

Sabtu, 15 Agustus 2009

Silent_Crew Live in "PAPAJAR"

Hai... Hai... Hai... Hai...
Hari minggu besok Silent_Crew akan mengadakan 'Papajar'. Apa itu 'Papajar'? Yang pastinya bukan 'Bupajar', apalagi 'Bubujar'.
Yah acara rutin sebelum menghadapi bulan puasa. Acaranya adalah ngaliwet bareng wali kelas.
Diadakan sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT, betapa kita bisa dipertemukan lagi dengan bulan yang agung yang penuh dengan keberkahan. Kalau bukan karena karunianya, mungkin kita telah dipisahkan dengan Ramadhan dari awal bulan Sya'ban.

Yah sebagai rasa syukur kita, kita mengadakan 'Papajar'.

Oh ya 'btw' acaranya akan dilaksanakan di Cibodas Cianjur, enak lho tempatnya adem alias dingin 'matak kabulusan'.

Semoga aja acaranya sukses ya!

Bravo Silent_Crew...!

Selasa, 11 Agustus 2009

Ramadhan kembali di hadapan kita

Tak terasa waktu berlalau,,,
Yah yang namanya manusia, selalu berusaha berlepas diri dari apa yang telah menimpanya.
Contoh sederhana, baru kemarin kita menjalankan ibadah puasa, eh tahunya minggu depan udah mau puasa lagi. Tetapi, apapun yang terjadi, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita. bukan karena hanya di bulan puasa saja, tetapi kita harus bisa memanfaatkan suasana Ramadhan ini, agar suasana ramadhan ini bisa terbawa ke luar bulan ramadhan setelahnya.

[to be continued]

Tips ABCDE untuk Siap Ujian Nasional

Adanya rencana Mendiknas untuk memajukan Ujian Nasional (UN) atau tidak, tak akan menjadi masalah bagi siswa yang berkarakter pembelajar dan...